PENDAHULUAN
Dalam
kehidupan manusia, setiap orang diperhadapkan dengan banyak pilihan hidup.
Setiap pilihan hidup seringkali membingungkan orang dalam kehidupan. Orang
bingung untuk memilih mana yang baik untuk dirinya dan orang lain. Dalam
hubungannya dengan hal ini seringkali terjadi bahwa dalam menghadapi berbagai
pilihan, orang yakin telah memilih, atau menentukan pilihan ataupun keputusan
yang tepat akan tetapi sering keputusan dan pilihan itu malah mengecewakan,
tidak menyenangkan, dan bahkan mendatangkan masalah di dalam kehidupannya.
“Discernment”
adalah salah satu proses yang dapat menuntun seseorang untuk mengambil setiap
keputusan di dalam kehidupannya. Dengan discernment setiap pemilihan dan
pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan kehendak
sendiri melainkan setiap pemilihan dan pengambilan keputusan itu melibatkan
Tuhan sendiri. Model ini didasarkan pada ajaran Santo Ignatius yang dituliskan
dalam buku Latihan Rohani, yang
sering digunakan dalam membantu orang dalam melakukan retret untuk bertemu
dengan Tuhan, dalam membangun kehidupan rohani seseorang, membangun kedekatan
dengan Tuhan, membiarkan Tuhan menguasai hidup seseorang, sehingga seseorang itu
diarahkan dan dituntun untuk selalu bersatu dengan-Nya, dituntun untuk
membangun sikap hidup yang baik di dalam kehidupannya bersama dengan orang lain
sebagai hasil dari kedekatannya dengan Tuhan.
PROSES DISCERMENT DEMI PENGEMBANGAN HIDUP ROHANI
I.
Discernment, Istilah
dan Arti
I.1. Istilah Discernment
Secara
etimologis kata discernment berasal
dari kata Latin discernere, yang
artinya memisahkan, membedakan dengan cermat satu objek dengan objek yang lain.[1]
Maka discernment diartikan sebagai proses di mana kita melihat atau meneliti
secara seksama, apa yang membedakan hal yang satu dengan yang lain.[2]
Dengan dapat membedakan hal-hal itu secara mendalam, termasuk sifat baik dan
buruknya, kualitasnya, kondisinya dan lain-lain, kita mampu mengambil keputusan
mana yang ingin kita ambil. Contohnya, setelah kita dapat membedakan berbagai
sayuran yang dijual di pasar, kita memilih membeli sayuran tertentu. Discernment
biasanya dibedakan dalam dua macam, yaitu discernment pribadi dan discernment
bersama (communal discernment)[3].
Discernment pribadi terjadi bila pengambilan keputsan itu dilakukan oleh
seseorang sendiri. Sedangkan discernment bersama terjadi bila pengambilan
keputusan itu dilakukan oleh banyak orang secara bersama.
Dalam
proses pengambilan keputusan, biasanya ditentukan oleh dua hal penting, yaitu
pembedaan roh (discretio spirituum) dan pemilihan/pengambilan keputusan
sendiri. Dalam pembedaan roh, seseorang diarahkan untuk dapat membedakan gerak
roh baik dan jahat, sehingga ia tidak mengikuti roh jahat tetapi mengikuti roh
baik, roh dari Tuhan sendiri. Kepekaan terhadap gerakan batin ini sangat
penting agar seseorang dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak
Tuhan sendiri.
I.2. Discernment dan Landasan Biblis Yang Mendasari.
Tindakan
discernment dalam perjalanan sejarah sebenarnya sudah ditemukan sejak Bapa-bapa
bangsa di dalam Perjanjian Lama.[4]
Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh
Perjanjian Lama di mana mereka harus memilih untuk memutuskan sesuatu
sesuai dengan kehendak Tuhan seperti : larangan Tuhan kepada Adam tentang buah
terlarang (Kej. 2: 17), Kisah tentang panggilan Abraham oleh Allah (Kej. 12:
4), kisah Abraham yang mempersembahkan anaknya kepada Allah (Kej. 22: 1-19) dan
sebagainya.
Dalam
perjalanan sejarah bangsa Israel, kita dapat menyaksikan pengalaman pergulatan
dan perjuangan mereka sebagai umat pilihan Allah yang mengalami jatuh-bangun di
dalam usaha untuk memahami dan melaksanakan kehendak Yahwe, Allah mereka.
Mereka merasa terjerat di antara dua pilihan yang terus menggema di dalam hati
mereka: setia kepada kehendak Allah kepada kebenaran atau mengiktui arus dunia
seperti bangsa-bangsa kafir.[5] Dalam Perjanjian Baru kita menemukan pula
adanya praktek discernment. Maria yang akhirnya memutuskan untuk berpasrah diri
menerima tawaran Allah untuk mengandung Sang Juru Selamat dari Roh Kudus sendiri
(Mat. 1: 35). Yosef yang dengan kesungguhan hati memutuskan untuk menerima
Maria yang telah mengandung, setelah malaikat menampakan diri dalam mimpinya
(Mat. 1: 18). Zakaria yang meragukan akan kepenuhan janji Allah, sehingga ia
dihukum menjadi buta sampai kepenuhan janji itu terlaksana (Luk 1: 20). Dalam
surat-surat Paulus pun nampak ungkapan-ungkapan yang menunjuk pada discernment
seperti : “Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan apa yang sempurna. (Rom. 12: 2).
Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak Terang, karena terang hanya membuahkan
kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak
membuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengeri kehendak
Tuhan (Ef. 5: 8-11, 17).[6]
Para
tokoh iman dalam kitab suci telah mempraktekkan dan mengungkapkan
tindakan-tindakan yang menampakan discernment. Dengan proses ini mereka
membiarkan diri mereka untuk mengikuti kehendak Allah karena kepercayaan dan
keyakinan akan kebaikan dan kebenaran yang berasal dari Allah. Dengan
membiarakan diri mereka untuk memilih dan mengikuti kehendak Allah maka mereka
menjadi berarti bagi Allah dan hidup manusia jaman ini.
II.
Discernment Dalam Konteks Doa
Proses
discernment selalu dihubungkan dalam konteks doa. Dengan lain perkataan proses
ini tidak mempunyai arti dan bernilai tanpa ditempatkan di dalam hidup doa. Proses
discernment tanpa disertai keinginan yang besar untuk mencari dan menemukan
kehadiran Roh Allah di dalam segalanya, maka tidak akan menghasilkan buah-buah
roh yang sesungguhnya.[7]
Proses ini bukan suatu kegiatan akal budi melulu, sebagai suatu refleksi atau
analisa terhadap kecenderungan dan dorongan-dorongan dari roh, tetapi jauh
lebih dari itu dan lebih mendalam dari sekedar aktivitas intelektual[8].
Di dalam proses discernment Roh Kudus ikut berkarya untuk mewahyukan kehendak
Allah bagi diri seseorang, karena proses ini bukan semata-mata merupakan
aktivitas manusia belaka. Pada hakekatnya, discernment adalah suatu seni bukan
ilmu.[9]
Proses discernment dipelajari dengan membuatnya sendiri. Discernment sendiri
merupakan karunia, bukan pertama-tama sebagai suatu buah yang dihasilkan dengan
usahanya sendiri melainkan karunia Tuhan yang diberikan kepada mereka yang
mencintai dan dicintai-Nya. Dalam maksud ini maka dapat ditegaskan bahwa
discernment selalu diletakkan dalam konteks hidup doa atau hidup rohani.
Seseorang dapat bertumbuh di dalam proses discernment hanya berkat kerja sama
di dalam cinta dan rahmat Allah. keyakinan akan cinta Allah itulah yang menjadi
dasar proses ini di dalam konteks doa. Oleh karena itulah di dalam proses ini
diperlukan suatu kepekaan untuk melihat dan menangkap kehadiran Allah lewat
berbagai tanda kehidupan. Tuhan menyentuh dan berkarya di dalam berbagai peristiwa
kehidupan harian. Untuk itu memang dibutuhkan mutlak adanya sikap mendengarkan
yaitu membiarkan Tuhan bersabda, menyentuh, dan membimbing kita di dalam
jalan-Nya dalam proses ini.[10]
Sikap
mendengarkan ini dapat ditumbuhkan di dalam kontemplasi. Melalui keheningan doa
yang mendalam itulah seseorang menemukan dirinya dan di sanalah seseorang bisa
mendengarkan Roh Allah. Tuhan tidak lagi suatu obyek yang berada di luar diri
seseorang, tetapi ada dan menjadi inti dari diri seseorang.[11]
Dan di sinilah seseorang mulai mengalami bahwa ia hidup di dalam Tuhan. Di
dalam keheningan dan kesunyian seseorang mulai melihat peristiwa-peristiwa
Allah di dalam sesama dan dirinya sendiri. Seseorang mulai peka dan menyelami
suatu nilai yang ada dibalik peristiwa itu. Dan di sanalah proses discernment
terjadi di dalam doa.
Dalam proses
ini sesungguhnya bukan semata-mata dimulai dari pihak seseorang, tetapi karena
rahmat da anugerah Allah yang menggerakan seseorang (I Yoh. 4: 10). Seseorang
yang diberi rahmat itu di dalam doa menjadi begitu yakin dan percaya bahwa ia
dicintai oleh Allah sedalam-dalamnya. Penyadaran akan cinta Allah terhadapnya
itulah yang menghasilkan jawaban di dalam discernment.[12]
Oleh karena itu discernment tidak lain adalah memasuki hidup Yesus, memasuki
rahasia kehidupan-Nya dalam persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus, dan mengalami
misteri cinta-Nya di dalam seluruh kehidupan.
III.
Proses Discernment: Tindakan Memutuskan
Pelaksanaan proses
ini menuntut suatu keberanian untuk mengambil suatu keputusan diri untuk
merealisasikan apa yang telah ditemukan dalam doa/keheningan. Keberanian untuk
mengambil sikap/tidakan dan memutuskan ini sangat membantu dan menolong
seseorang ke arah penyempurnaan proses discernment yang sekaligus mendewasakan
hidup kristiani seseorang menjadi matang.[13]
Proses discernment memiliki arti kalau sampai pada titik realisasi.
Proses ini
membutuhkan di dalam diri seseorang suatu sikap lepas bebas. Yakni melepaskan segala-galanya
untuk dibimbing oleh Roh Allah sendiri. Dalam proses ini seseorang diharapkan
untuk melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan terhadap suatu hal, dan
membentuk motivasi untuk mengabdi Allah. Dalam kenyataannya setiap orang
seringkali menghadapi kesulitan untuk bersikap lepas bebas dalam melepaskan
diri dari keterikatan-keterikatan akan sesuatu di dalam kehidupannya karena
pada dasarnya semua itu menjadi kesenangan ego yang sulit untuk dilepaskan.
Harapan untuk bersikap lepas bebas pada dasarnya sulit karena menuntut
seseorang untuk bersikap rendah hati dalam meneladani dan menyerupai Kristus
misalnya menghendaki dan memilih kemiskinan, bersedia untuk dihina yang
tentunya melawan kehendak untuk dihormati, memilih untuk dianggap bodoh dan
gila demi Kristus.[14]
Oleh karena
itu kesadaran yang harus dibangun adalah Allah menjadi pusat sebagai azas dan
dasar kehidupan. Segala sesuatu yang dilakukan adalah hanyalah bertujuan untuk
memuji, menghormati dan mengabdi Allah, demi mencapai keselamatan abadi.
Kiranya seseorang berani untuk memutuskan untuk memilih/membuat sesuatu karena
kesadaran demi pengabdian dan pujian/kemuliaan kepada Allah demi mencapai
keselamatan.
IV.
Aplikasi: Proses Realisasi Hasil Keputusan
Perwujudan/aplikasi
adalah tahap yang penting pula di dalam proses discernment. Dengan kenyataan
ini proses discernment memadukan aspek doa dan karya/tindakan. Proses ini
menyangkut realisasi diri seseorang untuk mewujud nyatakan dalam tindakan nyata
apa yang dialami, dipilih dan diyakini, apa yang diputuskan melalui proses
discernment. Prinsipnya adalah apa yang dipilih adalah apa yang terbaik dan
bukan apa yang disenangi menurut kriteria pribadi. Memang konsekuensinya adalah
apa yang terbaik belum tentu menyenangkan seseorang. Oleh karena itu seseorang
mesti bersiap diri untuk meninggalkan cinta diri, kehendak dan kepentingan diri
demi Tuhan yang memanggil. Dalam merealisasikan diri ini sikap dasar yang
dituntut adalah menerima dan menghargai realita dan berani keluar dari diri
bagi sebuah relasi dengan orang lain.[15]
Proses memutuskan apa yang dikehendaki dalam discernment ini terjadi melalui
beberapa cara sebagai berikut:
1.
Menerima dan Menghargai Realita[16]
Menerima
realita adalah menerima segala sesuatu sebagaimana realita itu nampak/ada.
Dalam hal ini seseorang membiarkan dirinya untuk dibentuk. Sama seperti Maria
yang mengatakan: jadilah padaku menurut perkataan-Mu. Inilah gambaran seseorang
yang sungguh menerima realita. Kesediaan Maria untuk mengimani/mengiyakan Allah
tumbuh bukan dari kehendaknya sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengharuskannya
untuk bertumbuh. Menerima realita berarti berani dibentuk olehnya, dalam
pengertian bahwa berani membiarkan realita itu berbicara kepada hidup kita,
terlebih realitas dari yang transenden. Oleh kerna itu menerima realita adalah
kemampuan untuk membiarkan dan melepaskan segala-galanya, dan bertumbuh di
dalam cinta.
2. Berani Keluar Dari Diri Sendiri
Dalam hal ini
sikap yang perlu dibangun adalah keberanian untuk berjumpa dengan sesama dan
memberi diri. Dengan kata lain proses realisasi ini mesti nyata/terwujud dalam
pelayanan pemberian diri. Pelayanan merupakan jalan untuk membawa buah-buah
keheningan ke dalam pengungkapannya secara nyata[17].
Pelayanan adalah cinta dalam aksi, cinta dalam tindakan nyata[18].
Proses
discernment tidak hanya berhenti pada lingkup diri sendiri. Proses ini hendak
membebaskan seseorang dari keterikatan dengan diri sendiri sehingga seseorang
selalu berorientasi kepada orang lain. Dengan demikian, proses discernment memampukan
seseorang untuk berkembang menjadi “man for others”, seseorang yang berguna
untuk orang lain/sesama.
V.
Discernment Mengintegrasikan Diri menuju Kepenuhan dan Kekudusan
Setiap orang
Kristen dipanggil oleh Allah kepada kekudusan, dan mengambil bagian di dalam
kepenuhan hidup Trinitas: Bapa, Putra dan Roh Kudus. “Dialah yang menyelamatkan
kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah
dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Tim.
1: 9). Dalam konsili Vatikan II juga ditegaskan dalam konstitusi Dogmatik
tentang Gereja sebagai beriktu: Dilengkapi dengan sarana penyelamatan yang
sekian banyak dan sekian bermutu, semua umat Kristen, dalam keadaan dan status
apapun, dipanggil Tuhan kepada kekudusan yang sempurna, sebagaimana Bapa
sendiri sempurna adanya masing-masing menurut caranya sendiri[19].
Untuk menuju
kepada kekudusan, seseorang tidak bisa melepaskan aspek integrasi di dalam
kepenuhan hidunya.[20]
Hal ini berarti bahwa seseorang tidak mungkin mencapai kekudusan tanpa berusaha
untuk mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan seperti: fisik, emosional,
intelektual, afeksi, dan rahmat spiritual yang dikaruniakan kepadanya.
Integrasi terjadi ketika sikap dan tindakan seseorang terpadu di dalam cinta,
yang terekspresi bagi sesamanya.
Kekudusan
merupakan hasil/buah dari proses doa yang di dalamnya seluruh hidup seseorang
dintegrasikan dan didorong untuk mencintai sesamanya di dalam kehidupan.
Discernment merupakan proses integrasi kehidupan. Proses ini akan terbantu kalau
seseorang berusaha untuk selalu menginternalisasikan buah-buah kehidupan yang
ditemukan di dalam iman, harap dan cinta yang utuh. Untuk itu dibutuhkan
tindakan-tindakan seperti: relasi-relasi yang menghidupkan yang merangsang
dinamika dari perkembangan diri lewat perjumpaan personal dengan pribadi yang
lain. Adanya pengungkapan diri dalam identitas diri yang hakiki, dalam arti
bahwa seseorang selalu berusaha dan berjuang untuk bertindak sesuai dengan
hakekat dirinya. Yang terakhir, mengakrabi diri dan mengasimilasikan semua
otentisitas[21]
yang ada agar hidup dan berkembang dan terungkap keluar lewat tindakan.[22]
Internalisasi
menyadarkan seseorang dan mengembalikannya kepada inti hidup seseorang yaitu
bersatu dengan realitas kebenaran yang terdalam yakni Allah sendirilah yang
memampukannya. Melalui rahmat Ilahi-Nya seseorang dihantar untuk menjumpai
Allah dan tinggal di dalam cinta-Nya.[23]
Semua ini terjadi di dalam proses discernment. Dan inilah inti seluruh proses
discernment bagi seseorang.
PENUTUP
Dalam banyak
pilihan hidup setiap diperhadapkan pada berbagai pertimbangan untuk memutuskan
manakah yang terbaik dan menguntungkan dirinya. Acapkali dalam keputusan dan
pilihan telah diambil dan diyakini pasti baik dan benar, namun sering tidak
sedikit menimbulkan kekecewaan karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Discernment
adalah suatu proses yang membantu setiap orang untuk menentukan pilihan yang
terbaik di dalam kehidupannya. Disecermen merupakan proses yang terjadi tanpa
kemampuan seseorang semata-mata. Discernment terjadi dengan melibatkan Tuhan.
Membiarkan Tuhan untuk berkarya di dalam diri dengan Roh Kudus-Nya yang
menggerakan dan menuntun untuk memilih dan menentukan manakah yang terbaik.
Proses disecernment itu terjadi dalam doa dan keheningan. Dengan doa dan
keheningan seseorang menemukan buah-buah Roh untuk menentukan pilihannya.
Setelah apa yang telah ditemukan dalam doa, seseorang dituntun untuk memutuskan
apa yang telah diterima. Keputusan itu kemudian direalisasikan di dalam hidup
dalam praksis kehidupan sehari-hari bersama dengan orang lain dalam rangka
pelayanan dan kebaikan bagi sesama. Dengan demikian disecernment adalah proses
yang mengarahkan setiap orang untuk mencapai kepenuhan di dalam kekudusan dan
kepenuhan di dalam Kristus demi mencapai keselamatan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Suprno Paul. DISCERNMENT
(Panduan Mengambil Keputusan). Yogjakarta: Kanisius, 2009.
____________ Roh
Baik dan Roh Jahat – Praktek Pembedaan
Roh dan Pemilihan Menurut Latihan Rohani St. Ignatius. Yogyakarta:
Kanisius, 1998.
____________
Communal Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Loyola Ignatius. Latihan
Rohani. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
KWI. Pembaharuan
Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh. Jakarta Pusat: Obor, 1995
Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
( A.F.X. Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius,
Tahun akademik 1987-1988)
[1] Bdk. Paul Suprno, DISCERNMENT
(Panduan Mengambil Keputusan) (Yogjakarta: Kanisius, 2009), hal. 15.
[2] Bdk. Ibid.
[3] Bdk. Ibid.,
hal. 51.
[4] Bdk. Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat
Seminari Pineleng ( A.F.X. Rosa Handoko
Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius,
Tahun akademik 1987-1988), hal. 8.
[5] Bdk. KWI, Pembaharuan
Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 13
[6] Bdk. Paul Suparno, Communal
Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hal.25
[7] Paul Suparno, Roh
Baik dan Roh Jahat – Praktek Pembedaan
Roh dan Pemilihan Menurut Latihan Rohani St. Ignatius (Yogyakarta:
Kanisius, 1998), hal. 21
[8] Bdk., Ibid.,
hal. 22
[9] Bdk., Ibid.
[10] Bdk. Ignatius Loyola, Latihan Rohani (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal. 45
[11] Paul Suparno, Communal
Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hal. 28.
[12] Bdk. KWI, Pembaharuan
Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 16.
[13] Ibid.
[14] Bdk. Ibid.,
hal. 12
[15] Ibid.
[16] Bdk. Ibid.,
hal. 45-46
[17] Paul Suparno, Communal
Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hal. 51
[18] Bdk. KWI, Pembaharuan
Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 25.
[19] Bdk. Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat
Seminari Pineleng ( A.F.X. Rosa Handoko
Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius,
Tahun akademik 1987-1988), hal.51
[20] Ibid.
[21] Otentisitas lebih
dipahami dalam maksud sebagai keunikan, bukan dalam arti sekedar sifat namun
potensi positif yang menjadi identitas seseorang secara personal yang asli.
[22] Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari
Pineleng ( A.F.X. Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius,
Tahun akademik 1987-1988),hal. 52
[23] Bdk. Paul Suprno, DISCERNMENT
(Panduan Mengambil Keputusan) (Yogjakarta: Kanisius, 2009), hal.27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar