Selasa, 06 November 2012

Proses Discerment: Menuju Hidup Yang holistik

Proses Discerment: menuju hidup yang holitik: PENDAHULUAN Dalam kehidupan manusia, setiap orang diperhadapkan dengan banyak pilihan hidup. Setiap pilihan hidup seringkali membingun...

Proses Discerment


PENDAHULUAN

Dalam kehidupan manusia, setiap orang diperhadapkan dengan banyak pilihan hidup. Setiap pilihan hidup seringkali membingungkan orang dalam kehidupan. Orang bingung untuk memilih mana yang baik untuk dirinya dan orang lain. Dalam hubungannya dengan hal ini seringkali terjadi bahwa dalam menghadapi berbagai pilihan, orang yakin telah memilih, atau menentukan pilihan ataupun keputusan yang tepat akan tetapi sering keputusan dan pilihan itu malah mengecewakan, tidak menyenangkan, dan bahkan mendatangkan masalah di dalam kehidupannya.
            “Discernment” adalah salah satu proses yang dapat menuntun seseorang untuk mengambil setiap keputusan di dalam kehidupannya. Dengan discernment setiap pemilihan dan pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan kehendak sendiri melainkan setiap pemilihan dan pengambilan keputusan itu melibatkan Tuhan sendiri. Model ini didasarkan pada ajaran Santo Ignatius yang dituliskan dalam buku Latihan Rohani, yang sering digunakan dalam membantu orang dalam melakukan retret untuk bertemu dengan Tuhan, dalam membangun kehidupan rohani seseorang, membangun kedekatan dengan Tuhan, membiarkan Tuhan menguasai hidup seseorang, sehingga seseorang itu diarahkan dan dituntun untuk selalu bersatu dengan-Nya, dituntun untuk membangun sikap hidup yang baik di dalam kehidupannya bersama dengan orang lain sebagai hasil dari kedekatannya dengan Tuhan.

PROSES DISCERMENT DEMI PENGEMBANGAN HIDUP ROHANI

I.         Discernment, Istilah dan Arti
I.1. Istilah Discernment
            Secara etimologis kata discernment berasal dari kata Latin discernere, yang artinya memisahkan, membedakan dengan cermat satu objek dengan objek yang lain.[1] Maka discernment diartikan sebagai proses di mana kita melihat atau meneliti secara seksama, apa yang membedakan hal yang satu dengan yang lain.[2] Dengan dapat membedakan hal-hal itu secara mendalam, termasuk sifat baik dan buruknya, kualitasnya, kondisinya dan lain-lain, kita mampu mengambil keputusan mana yang ingin kita ambil. Contohnya, setelah kita dapat membedakan berbagai sayuran yang dijual di pasar, kita memilih membeli sayuran tertentu. Discernment biasanya dibedakan dalam dua macam, yaitu discernment pribadi dan discernment bersama (communal discernment)[3]. Discernment pribadi terjadi bila pengambilan keputsan itu dilakukan oleh seseorang sendiri. Sedangkan discernment bersama terjadi bila pengambilan keputusan itu dilakukan oleh banyak orang secara bersama.
            Dalam proses pengambilan keputusan, biasanya ditentukan oleh dua hal penting, yaitu pembedaan roh (discretio spirituum) dan pemilihan/pengambilan keputusan sendiri. Dalam pembedaan roh, seseorang diarahkan untuk dapat membedakan gerak roh baik dan jahat, sehingga ia tidak mengikuti roh jahat tetapi mengikuti roh baik, roh dari Tuhan sendiri. Kepekaan terhadap gerakan batin ini sangat penting agar seseorang dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.

I.2. Discernment dan Landasan Biblis Yang Mendasari.

            Tindakan discernment dalam perjalanan sejarah sebenarnya sudah ditemukan sejak Bapa-bapa bangsa di dalam Perjanjian Lama.[4] Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh Perjanjian Lama di mana mereka harus memilih untuk memutuskan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan seperti : larangan Tuhan kepada Adam tentang buah terlarang (Kej. 2: 17), Kisah tentang panggilan Abraham oleh Allah (Kej. 12: 4), kisah Abraham yang mempersembahkan anaknya kepada Allah (Kej. 22: 1-19) dan sebagainya.
            Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel, kita dapat menyaksikan pengalaman pergulatan dan perjuangan mereka sebagai umat pilihan Allah yang mengalami jatuh-bangun di dalam usaha untuk memahami dan melaksanakan kehendak Yahwe, Allah mereka. Mereka merasa terjerat di antara dua pilihan yang terus menggema di dalam hati mereka: setia kepada kehendak Allah kepada kebenaran atau mengiktui arus dunia seperti bangsa-bangsa kafir.[5]  Dalam Perjanjian Baru kita menemukan pula adanya praktek discernment. Maria yang akhirnya memutuskan untuk berpasrah diri menerima tawaran Allah untuk mengandung Sang Juru Selamat dari Roh Kudus sendiri (Mat. 1: 35). Yosef yang dengan kesungguhan hati memutuskan untuk menerima Maria yang telah mengandung, setelah malaikat menampakan diri dalam mimpinya (Mat. 1: 18). Zakaria yang meragukan akan kepenuhan janji Allah, sehingga ia dihukum menjadi buta sampai kepenuhan janji itu terlaksana (Luk 1: 20). Dalam surat-surat Paulus pun nampak ungkapan-ungkapan yang menunjuk pada discernment seperti : “Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan apa yang sempurna. (Rom. 12: 2). Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak Terang, karena terang hanya membuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak membuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengeri kehendak Tuhan (Ef. 5: 8-11, 17).[6]
            Para tokoh iman dalam kitab suci telah mempraktekkan dan mengungkapkan tindakan-tindakan yang menampakan discernment. Dengan proses ini mereka membiarkan diri mereka untuk mengikuti kehendak Allah karena kepercayaan dan keyakinan akan kebaikan dan kebenaran yang berasal dari Allah. Dengan membiarakan diri mereka untuk memilih dan mengikuti kehendak Allah maka mereka menjadi berarti bagi Allah dan hidup manusia jaman ini.

II.           Discernment Dalam Konteks Doa

Proses discernment selalu dihubungkan dalam konteks doa. Dengan lain perkataan proses ini tidak mempunyai arti dan bernilai tanpa ditempatkan di dalam hidup doa. Proses discernment tanpa disertai keinginan yang besar untuk mencari dan menemukan kehadiran Roh Allah di dalam segalanya, maka tidak akan menghasilkan buah-buah roh yang sesungguhnya.[7] Proses ini bukan suatu kegiatan akal budi melulu, sebagai suatu refleksi atau analisa terhadap kecenderungan dan dorongan-dorongan dari roh, tetapi jauh lebih dari itu dan lebih mendalam dari sekedar aktivitas intelektual[8]. Di dalam proses discernment Roh Kudus ikut berkarya untuk mewahyukan kehendak Allah bagi diri seseorang, karena proses ini bukan semata-mata merupakan aktivitas manusia belaka. Pada hakekatnya, discernment adalah suatu seni bukan ilmu.[9] Proses discernment dipelajari dengan membuatnya sendiri. Discernment sendiri merupakan karunia, bukan pertama-tama sebagai suatu buah yang dihasilkan dengan usahanya sendiri melainkan karunia Tuhan yang diberikan kepada mereka yang mencintai dan dicintai-Nya. Dalam maksud ini maka dapat ditegaskan bahwa discernment selalu diletakkan dalam konteks hidup doa atau hidup rohani. Seseorang dapat bertumbuh di dalam proses discernment hanya berkat kerja sama di dalam cinta dan rahmat Allah. keyakinan akan cinta Allah itulah yang menjadi dasar proses ini di dalam konteks doa. Oleh karena itulah di dalam proses ini diperlukan suatu kepekaan untuk melihat dan menangkap kehadiran Allah lewat berbagai tanda kehidupan. Tuhan menyentuh dan berkarya di dalam berbagai peristiwa kehidupan harian. Untuk itu memang dibutuhkan mutlak adanya sikap mendengarkan yaitu membiarkan Tuhan bersabda, menyentuh, dan membimbing kita di dalam jalan-Nya dalam proses ini.[10]
Sikap mendengarkan ini dapat ditumbuhkan di dalam kontemplasi. Melalui keheningan doa yang mendalam itulah seseorang menemukan dirinya dan di sanalah seseorang bisa mendengarkan Roh Allah. Tuhan tidak lagi suatu obyek yang berada di luar diri seseorang, tetapi ada dan menjadi inti dari diri seseorang.[11] Dan di sinilah seseorang mulai mengalami bahwa ia hidup di dalam Tuhan. Di dalam keheningan dan kesunyian seseorang mulai melihat peristiwa-peristiwa Allah di dalam sesama dan dirinya sendiri. Seseorang mulai peka dan menyelami suatu nilai yang ada dibalik peristiwa itu. Dan di sanalah proses discernment terjadi di dalam doa.
Dalam proses ini sesungguhnya bukan semata-mata dimulai dari pihak seseorang, tetapi karena rahmat da anugerah Allah yang menggerakan seseorang (I Yoh. 4: 10). Seseorang yang diberi rahmat itu di dalam doa menjadi begitu yakin dan percaya bahwa ia dicintai oleh Allah sedalam-dalamnya. Penyadaran akan cinta Allah terhadapnya itulah yang menghasilkan jawaban di dalam discernment.[12] Oleh karena itu discernment tidak lain adalah memasuki hidup Yesus, memasuki rahasia kehidupan-Nya dalam persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus, dan mengalami misteri cinta-Nya di dalam seluruh kehidupan.

III.             Proses Discernment: Tindakan Memutuskan

Pelaksanaan proses ini menuntut suatu keberanian untuk mengambil suatu keputusan diri untuk merealisasikan apa yang telah ditemukan dalam doa/keheningan. Keberanian untuk mengambil sikap/tidakan dan memutuskan ini sangat membantu dan menolong seseorang ke arah penyempurnaan proses discernment yang sekaligus mendewasakan hidup kristiani seseorang menjadi matang.[13] Proses discernment memiliki arti kalau sampai pada titik realisasi.
Proses ini membutuhkan di dalam diri seseorang suatu sikap lepas bebas. Yakni melepaskan segala-galanya untuk dibimbing oleh Roh Allah sendiri. Dalam proses ini seseorang diharapkan untuk melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan terhadap suatu hal, dan membentuk motivasi untuk mengabdi Allah. Dalam kenyataannya setiap orang seringkali menghadapi kesulitan untuk bersikap lepas bebas dalam melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan akan sesuatu di dalam kehidupannya karena pada dasarnya semua itu menjadi kesenangan ego yang sulit untuk dilepaskan. Harapan untuk bersikap lepas bebas pada dasarnya sulit karena menuntut seseorang untuk bersikap rendah hati dalam meneladani dan menyerupai Kristus misalnya menghendaki dan memilih kemiskinan, bersedia untuk dihina yang tentunya melawan kehendak untuk dihormati, memilih untuk dianggap bodoh dan gila demi Kristus.[14]
Oleh karena itu kesadaran yang harus dibangun adalah Allah menjadi pusat sebagai azas dan dasar kehidupan. Segala sesuatu yang dilakukan adalah hanyalah bertujuan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah, demi mencapai keselamatan abadi. Kiranya seseorang berani untuk memutuskan untuk memilih/membuat sesuatu karena kesadaran demi pengabdian dan pujian/kemuliaan kepada Allah demi mencapai keselamatan.

IV.        Aplikasi: Proses Realisasi Hasil Keputusan

Perwujudan/aplikasi adalah tahap yang penting pula di dalam proses discernment. Dengan kenyataan ini proses discernment memadukan aspek doa dan karya/tindakan. Proses ini menyangkut realisasi diri seseorang untuk mewujud nyatakan dalam tindakan nyata apa yang dialami, dipilih dan diyakini, apa yang diputuskan melalui proses discernment. Prinsipnya adalah apa yang dipilih adalah apa yang terbaik dan bukan apa yang disenangi menurut kriteria pribadi. Memang konsekuensinya adalah apa yang terbaik belum tentu menyenangkan seseorang. Oleh karena itu seseorang mesti bersiap diri untuk meninggalkan cinta diri, kehendak dan kepentingan diri demi Tuhan yang memanggil. Dalam merealisasikan diri ini sikap dasar yang dituntut adalah menerima dan menghargai realita dan berani keluar dari diri bagi sebuah relasi dengan orang lain.[15] Proses memutuskan apa yang dikehendaki dalam discernment ini terjadi melalui beberapa cara sebagai berikut:

1. Menerima dan Menghargai Realita[16]

Menerima realita adalah menerima segala sesuatu sebagaimana realita itu nampak/ada. Dalam hal ini seseorang membiarkan dirinya untuk dibentuk. Sama seperti Maria yang mengatakan: jadilah padaku menurut perkataan-Mu. Inilah gambaran seseorang yang sungguh menerima realita. Kesediaan Maria untuk mengimani/mengiyakan Allah tumbuh bukan dari kehendaknya sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengharuskannya untuk bertumbuh. Menerima realita berarti berani dibentuk olehnya, dalam pengertian bahwa berani membiarkan realita itu berbicara kepada hidup kita, terlebih realitas dari yang transenden. Oleh kerna itu menerima realita adalah kemampuan untuk membiarkan dan melepaskan segala-galanya, dan bertumbuh di dalam cinta.

2. Berani Keluar Dari Diri Sendiri

Dalam hal ini sikap yang perlu dibangun adalah keberanian untuk berjumpa dengan sesama dan memberi diri. Dengan kata lain proses realisasi ini mesti nyata/terwujud dalam pelayanan pemberian diri. Pelayanan merupakan jalan untuk membawa buah-buah keheningan ke dalam pengungkapannya secara nyata[17]. Pelayanan adalah cinta dalam aksi, cinta dalam tindakan nyata[18].
Proses discernment tidak hanya berhenti pada lingkup diri sendiri. Proses ini hendak membebaskan seseorang dari keterikatan dengan diri sendiri sehingga seseorang selalu berorientasi kepada orang lain. Dengan demikian, proses discernment memampukan seseorang untuk berkembang menjadi “man for others”, seseorang yang berguna untuk orang lain/sesama.

V.      Discernment Mengintegrasikan Diri menuju Kepenuhan dan Kekudusan

Setiap orang Kristen dipanggil oleh Allah kepada kekudusan, dan mengambil bagian di dalam kepenuhan hidup Trinitas: Bapa, Putra dan Roh Kudus. “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Tim. 1: 9). Dalam konsili Vatikan II juga ditegaskan dalam konstitusi Dogmatik tentang Gereja sebagai beriktu: Dilengkapi dengan sarana penyelamatan yang sekian banyak dan sekian bermutu, semua umat Kristen, dalam keadaan dan status apapun, dipanggil Tuhan kepada kekudusan yang sempurna, sebagaimana Bapa sendiri sempurna adanya masing-masing menurut caranya sendiri[19].
Untuk menuju kepada kekudusan, seseorang tidak bisa melepaskan aspek integrasi di dalam kepenuhan hidunya.[20] Hal ini berarti bahwa seseorang tidak mungkin mencapai kekudusan tanpa berusaha untuk mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan seperti: fisik, emosional, intelektual, afeksi, dan rahmat spiritual yang dikaruniakan kepadanya. Integrasi terjadi ketika sikap dan tindakan seseorang terpadu di dalam cinta, yang terekspresi bagi sesamanya.
Kekudusan merupakan hasil/buah dari proses doa yang di dalamnya seluruh hidup seseorang dintegrasikan dan didorong untuk mencintai sesamanya di dalam kehidupan. Discernment merupakan proses integrasi kehidupan. Proses ini akan terbantu kalau seseorang berusaha untuk selalu menginternalisasikan buah-buah kehidupan yang ditemukan di dalam iman, harap dan cinta yang utuh. Untuk itu dibutuhkan tindakan-tindakan seperti: relasi-relasi yang menghidupkan yang merangsang dinamika dari perkembangan diri lewat perjumpaan personal dengan pribadi yang lain. Adanya pengungkapan diri dalam identitas diri yang hakiki, dalam arti bahwa seseorang selalu berusaha dan berjuang untuk bertindak sesuai dengan hakekat dirinya. Yang terakhir, mengakrabi diri dan mengasimilasikan semua otentisitas[21] yang ada agar hidup dan berkembang dan terungkap keluar lewat tindakan.[22]
Internalisasi menyadarkan seseorang dan mengembalikannya kepada inti hidup seseorang yaitu bersatu dengan realitas kebenaran yang terdalam yakni Allah sendirilah yang memampukannya. Melalui rahmat Ilahi-Nya seseorang dihantar untuk menjumpai Allah dan tinggal di dalam cinta-Nya.[23] Semua ini terjadi di dalam proses discernment. Dan inilah inti seluruh proses discernment bagi seseorang.

PENUTUP

Dalam banyak pilihan hidup setiap diperhadapkan pada berbagai pertimbangan untuk memutuskan manakah yang terbaik dan menguntungkan dirinya. Acapkali dalam keputusan dan pilihan telah diambil dan diyakini pasti baik dan benar, namun sering tidak sedikit menimbulkan kekecewaan karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Discernment adalah suatu proses yang membantu setiap orang untuk menentukan pilihan yang terbaik di dalam kehidupannya. Disecermen merupakan proses yang terjadi tanpa kemampuan seseorang semata-mata. Discernment terjadi dengan melibatkan Tuhan. Membiarkan Tuhan untuk berkarya di dalam diri dengan Roh Kudus-Nya yang menggerakan dan menuntun untuk memilih dan menentukan manakah yang terbaik. Proses disecernment itu terjadi dalam doa dan keheningan. Dengan doa dan keheningan seseorang menemukan buah-buah Roh untuk menentukan pilihannya. Setelah apa yang telah ditemukan dalam doa, seseorang dituntun untuk memutuskan apa yang telah diterima. Keputusan itu kemudian direalisasikan di dalam hidup dalam praksis kehidupan sehari-hari bersama dengan orang lain dalam rangka pelayanan dan kebaikan bagi sesama. Dengan demikian disecernment adalah proses yang mengarahkan setiap orang untuk mencapai kepenuhan di dalam kekudusan dan kepenuhan di dalam Kristus demi mencapai keselamatan hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Suprno Paul. DISCERNMENT (Panduan Mengambil Keputusan). Yogjakarta: Kanisius, 2009.
____________ Roh Baik dan Roh Jahat – Praktek  Pembedaan Roh dan Pemilihan Menurut Latihan Rohani St. Ignatius. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
____________ Communal Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan   dalam Komunitas. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Loyola Ignatius. Latihan Rohani. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
KWI. Pembaharuan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh. Jakarta Pusat: Obor, 1995
Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ( A.F.X.  Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius, Tahun akademik 1987-1988)



[1] Bdk. Paul Suprno, DISCERNMENT (Panduan Mengambil Keputusan) (Yogjakarta: Kanisius, 2009), hal. 15.

[2] Bdk. Ibid.

[3] Bdk. Ibid., hal. 51.

[4] Bdk. Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ( A.F.X.  Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius, Tahun akademik 1987-1988), hal. 8.

[5] Bdk. KWI, Pembaharuan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 13

[6] Bdk. Paul Suparno, Communal Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal.25

[7] Paul Suparno, Roh Baik dan Roh Jahat – Praktek  Pembedaan Roh dan Pemilihan Menurut Latihan Rohani St. Ignatius (Yogyakarta: Kanisius, 1998), hal. 21

[8] Bdk., Ibid., hal. 22

[9] Bdk., Ibid.

[10] Bdk. Ignatius Loyola, Latihan Rohani (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal. 45

[11] Paul Suparno, Communal Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal. 28.

[12] Bdk. KWI, Pembaharuan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 16.

[13] Ibid.
[14] Bdk. Ibid., hal. 12

[15] Ibid.

[16] Bdk. Ibid., hal. 45-46

[17] Paul Suparno, Communal Discernment – Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal. 51

[18] Bdk. KWI, Pembaharuan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh (Jakarta Pusat: Obor, 1995), hal. 25.

[19] Bdk. Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ( A.F.X.  Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius, Tahun akademik 1987-1988), hal.51

[20] Ibid.

[21]  Otentisitas lebih dipahami dalam maksud sebagai keunikan, bukan dalam arti sekedar sifat namun potensi positif yang menjadi identitas seseorang secara personal yang asli.

[22] Bdk. Tulisan Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ( A.F.X.  Rosa Handoko Dikari, Proses “Discernment” Dalam Hidup Religius, Tahun akademik 1987-1988),hal. 52

[23] Bdk. Paul Suprno, DISCERNMENT (Panduan Mengambil Keputusan) (Yogjakarta: Kanisius, 2009), hal.27